Kementerian UMKM Sasar Standardisasi Industri Pariwisata Kesehatan dan Kesejahteraan di Bali
Jun 06, 2026 Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali

Kementerian UMKM Sasar Standardisasi Industri Pariwisata Kesehatan dan Kesejahteraan di Bali

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia mengambil langkah tegas dalam merombak tata kelola pembinaan usaha kecil di tanah air dengan menyasar sektor kesehatan dan kecantikan (wellness and beauty) sebagai salah satu proyek percontohan sistemik.  Hal ini diawali dengan reformasi birokrasi mendasar, termasuk pengalihan diksi formal bagi para pelaku usaha kecil demi membangun kesetaraan kapasitas kompetensi secara nasional.Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM RI, Bagus Rachman, menyatakan bahwa langkah awal penataan ini dimulai dengan mengubah penggunaan istilah dari yang semula disebut pelaku menjadi pengusaha di seluruh tingkatan regulasi.Perubahan diksi ini bukan sekadar urusan semantik, melainkan upaya untuk mengikis konotasi negatif yang kerap melekat pada kata pelaku.Sekaligus menuntut adanya kepemilikan kapasitas serta keterampilan kewirausahaan (entrepreneur skill) yang setara, baik dari skala mikro maupun industri besar.Kementerian UMKM kini diberikan mandat khusus oleh Presiden untuk bekerja lebih fokus. Prioritas utama yang mendesak untuk dibereskan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021, yaitu penataan pengelolaan basis data tunggal. Sebagaimana disampaikan Bagus Rachman dalam pidato closing ceremony Bali Wellness and Beauty (BWB) Expo 2026 di The Meru Sanur, Denpasar, pada Sabtu 7 Januari 2026."Selama ini, data pengusaha kecil kita terfragmentasi dan ego-sektoral karena tersebar di puluhan kementerian serta dinas pemerintah daerah tanpa ada yang mengorkestrasi secara terpusat," katanya. "Regulasi baru memandatkan kementerian kami sebagai pusat integrasi data tunggal tersebut guna mempermudah arah kebijakan pembinaan ke depan," imbuh Bagus Rachman.Dari hasil pemetaan awal bersama Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), kementeriannya menemukan indikasi kuat bahwa struktur serapan barang dan jasa pemerintah di wilayah Bali didominasi secara signifikan oleh produk-produk kebugaran tradisional. Hal ini mempertegas alasan mengapa kementerian memilih sektor ini untuk diintegrasikan ke dalam sistem kelembagaan yang lebih formal.Komoditas ini memiliki nilai tambah yang sangat tinggi berkat kekuatan merek lokal serta kerapian organisasinya. Namun, potensi besar ini tidak akan optimal jika pengusaha berjalan sendiri-sendiri. "Kami sedang menerapkan skema holding berbasis klaster kemitraan bisnis secara ketat, di mana sektor kesehatan dan kecantikan ini ditetapkan sebagai salah satu dari klaster prioritas nasional," kata dia.Kata dia, tujuannya agar terjadi standardisasi mutu produk dan penguatan akses melalui keterlibatan lintas sektor dalam ekosistem kemitraan, termasuk dukungan sektor perbankan.Upaya penataan regulasi dari pusat ini sejalan dengan realisasi di lapangan yang terlihat dalam pergelaran Expo ini.Ajang ini dimanfaatkan sebagai ruang uji standardisasi bagi ratusan merek lokal dari berbagai provinsi untuk menunjukkan kesiapan produk mereka, tidak hanya di pasar domestik tetapi juga di hadapan para pembeli dan investor internasional.Pada kesempatan yang sama, Co-Founder Bali Wellness and Beauty, Ketut Jaman, sepakat bahwa tolok ukur kesuksesan ekosistem ini tidak boleh terjebak pada angka pencapaian administratif semata. Pameran ini diarahkan pada pembentukan ruang transfer pengetahuan berkualitas tinggi dan kesepakatan kolaborasi jangka panjang. Melalui rangkaian sesi pleno, diskusi panel strategis, hingga kelas interaktif."Pameran ini berupaya membedah tantangan masa depan industri, seperti integrasi kesehatan digital hingga pemenuhan standar wisata kesehatan global," tuturnya.Menurut Ketut Jaman, pariwisata Bali ke depan harus berlandaskan pada pelestarian kearifan lokal dan warisan budaya yang terstruktur. "Sektor kebugaran tradisional ini merupakan modal sosial dan lingkungan yang kuat untuk menjadikan Bali sebagai pusat rujukan industri kesehatan dunia," bebernya.Karena itu, komitmen keberlanjutan acara ini akan terus dijaga sebagai platform evaluasi berkala bagi penguatan mutu industri lokal.Sinergi penataan ini diperkuat dengan kesiapan infrastruktur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur. KEK Sanur mengintegrasikan fasilitas medis modern dengan potensi lokal guna menciptakan ekosistem pariwisata medis yang berkelanjutan.General Manager The Meru Sanur, Ed Brea, menguraikan bahwa kesiapan infrastruktur kawasan, seperti beroperasinya Rumah Sakit Internasional Bali dan sejumlah klinik spesifik, dirancang untuk mendukung visi standardisasi tersebut. Lebih jauh, proyek strategis Taman Botani Etnomedisin yang ditargetkan rampung akhir tahun ini disiapkan sebagai wadah pelestarian ratusan spesies tanaman obat lokal. Fasilitas ini akan menjadi laboratorium hidup yang menjembatani metode medis modern dengan tradisi penyembuhan herbal khas Bali."Model transfer pengetahuan dari para tenaga ahli internasional di kawasan ini sengaja diadopsi untuk mendongkrak standar pelayanan kesehatan lokal di Bali menuju level kelas dunia," kata dia.Lanjutnya, rantai pasok industri kebugaran dan medis ini tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja. Harus ada keterikatan kuat antara komunitas, pengusaha, dan ketegasan pemerintah dalam satu koridor yang sama. "Diperlukan kerja sama timbal balik dan semangat gotong royong agar penataan ekosistem ini memberikan dampak ekonomi yang berkeadilan," tutup Ed Brea.Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Kementerian UMKM Sasar Standardisasi Industri Pariwisata Kesehatan dan Kesejahteraan di Bali, https://bali.tribunnews.com/bali/599108/kementerian-umkm-sasar-standardisasi-industri-pariwisata-kesehatan-dan-kesejahteraan-di-bali?page=2.Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Aloisius H Manggol

BWB Expo 2026 Resmi Ditutup, Bali Perkuat Posisi sebagai Pusat Wellness Dunia
Jun 06, 2026 Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali

BWB Expo 2026 Resmi Ditutup, Bali Perkuat Posisi sebagai Pusat Wellness Dunia

Denpasar – Nusantarajayanews.id | Bali Wellness and Beauty Expo (BWB) 2026 resmi ditutup pada Sabtu, 7 Juni 2026 di The Meru Sanur. Dengan tema “Thrive in Bali: Where Wellness Inspires the World”, expo tahun ini menegaskan peran Bali sebagai pusat pengembangan industri wellness yang memadukan tradisi penyembuhan, inovasi teknologi, dan keberlanjutan. Selama tiga hari penyelenggaraan, BWB Expo 2026 menghadirkan 95 exhibitor yang merepresentasikan lebih dari 140 brand dari lima provinsi di Indonesia, yakni Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Partisipasi internasional juga terlihat melalui kehadiran brand dari Jepang, Singapura, Amerika Serikat, dan Australia. Expo ini turut dihadiri lebih dari 200 perusahaan buyer yang menjajaki peluang distribusi, investasi, serta kemitraan strategis. Total pengunjung yang tercatat mencapai lebih dari 4.800 orang, terdiri dari peserta domestik dan mancanegara termasuk Malaysia, India, dan Inggris. Ketua BaliCEB I Ketut Jaman menyampaikan bahwa keberhasilan BWB Expo tidak hanya diukur dari capaian angka.“Keberhasilan expo ini tidak hanya terletak pada angka, melainkan pada kualitas dialog, pertukaran pengetahuan, dan peluang kolaborasi yang terbangun,” ujarnya dalam sambutan penutupan.Ia menambahkan bahwa expo ini berfungsi sebagai ruang transformasi yang mempertemukan inovasi, kearifan lokal, teknologi, investasi, dan gaya hidup berkelanjutan dalam satu ekosistem. Selama. tiga hari kegiatan, pengunjung mengikuti rangkaian program komprehensif meliputi sesi pleno, keynote speech, talkshow, workshop, product presentation, interactive class, wellness activities, fashion show, hingga live performances. Lebih dari 40 narasumber nasional dan internasional membahas isu strategis seperti wellness tourism, health and medical tourism, precision dan preventive medicine, integrative dan functional medicine, digital health, women’s health, longevity, sustainable living, serta tren masa depan industri wellness. Tema “Thrive in Bali: Where Wellness Inspires the World” dipilih karena Bali memiliki fondasi sosial, budaya, dan lingkungan yang kuat untuk menjadi pusat pengembangan wellness dunia. Bali dipandang tidak hanya sebagai destinasi pariwisata, tetapi juga rumah bagi tradisi penyembuhan, filosofi harmoni, dan keseimbangan hidup yang relevan dengan kebutuhan global saat ini. Dukungan terhadap penguatan UMKM juga berasal dari Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Koperasi dan UKM RI Bagus Rachman. Dalam sambutannya, menegaskan komitmen pemerintah untuk mengawal pertumbuhan industri beauty. “UMKM 99,99 persen adalah pelaku usaha di Indonesia, kontribusi PDB-nya 61 persen, penyerapan tenaga kerja 97 persen. Industri wellness and beauty ini memiliki potensi besar karena produknya ber-brand sehingga nilai tambahnya tinggi,” jelasnya. Ia juga menyoroti data LKPP yang mencatat nilai pengadaan barang dan jasa pemerintah di Bali sebesar Rp11,56 triliun dengan mayoritas berasal dari sektor wellness. Kondisi ini menjadi dasar penetapan Bali sebagai center of wellness and beauty. Kementerian Koperasi dan UKM saat ini mengembangkan ekosistem kemitraan berbasis cluster. Dari sepuluh cluster yang diidentifikasi, wellness and beauty menjadi fokus utama yang akan terus didukung melalui asosiasi di 20 provinsi, dengan Bali sebagai leading center. Menutup acara, BaliCEB mengumumkan bahwa Bali Wellness and Beauty Expo akan kembali digelar pada 4 hingga 6 Juni 2027 di venue yang sama. Target penyelenggaraan tahun depan adalah peningkatan partisipasi, kualitas program, serta penguatan kolaborasi. Penyelenggaraan BWB Expo 2026 didukung oleh pemerintah pusat dan daerah, Bank Rakyat Indonesia, The Meru Sanur, PT Daniswara Conference Logistics, para sponsor, exhibitor, buyer, investor, asosiasi, perguruan tinggi, komunitas, dan relawan.Bali Wellness and Beauty Expo telah berkembang dari agenda tahunan menjadi platform berkelas dunia yang mempertemukan inovasi, kolaborasi, dan inspirasi bagi pengembangan industri wellness dan kecantikan di Indonesia.(tik). Sumber artikel: Nusantara Jaya News https://nusantarajayanews.id/2026/06/bwb-expo-2026-resmi-ditutup-bali-perkuat-posisi-sebagai-pusat-wellness-dunia/Penulis: Tika

Ratusan Brand Berpartisipasi di BWB Expo 2026, Sukses Posisikan Bali sebagai Destinasi Wellness Terkemuka di Dunia
Jun 06, 2026 Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali

Ratusan Brand Berpartisipasi di BWB Expo 2026, Sukses Posisikan Bali sebagai Destinasi Wellness Terkemuka di Dunia

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Bali Wellness and Beauty (BWB) Expo 2026 yang berlangsung di Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali selama tiga (3) hari sejak Kamis (4/6/2026), secara resmi ditutup pada Sabtu (6/6/2026) dan telah dihadiri lebih dari 4.000 pengunjung.Sebelumnya, BWB Expo 2026 resmi dibuka oleh Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa, dan dihadiri oleh Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Republik Indonesia, Helvi Moraza, dan pihak sponsorship lainnya. Dalam laporan penyelenggara, Dr. Ketut Jaman, S.S., M.Si. bahwa BWB Expo 2026 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.“Jumlah booth meningkat dari 80 booth pada tahun 2025 menjadi 95 booth pada tahun 2026, sementara jumlah brand yang berpartisipasi meningkat dari 107 brand menjadi 143 brand,” ujarnya.Ditambahkan Ketut Jaman, penyelenggaraan tahun ini juga menunjukkan semakin kuatnya daya tarik internasional Bali Wellness and Beauty Expo. Selain diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, dari tingkat internasional, BWB Expo 2026 turut menghadirkan exhibitor dari Jepang, Singapura, Amerika Serikat, dan Australia. “Peningkatan jumlah booth, brand, dan partisipasi internasional menunjukkan semakin besarnya kepercayaan industri terhadap Bali Wellness and Beauty Expo sebagai platform untuk membangun kolaborasi, memperluas jaringan bisnis, dan memperkenalkan inovasi di sektor wellness, beauty, health, dan lifestyle,” ujar Dr. Ketut Jaman. Ed Brea, General Manager The Meru Sanur menyampaikan apresiasi kepada seluruh exhibitor, pembicara, mitra, sponsor, dan pengunjung yang telah mendukung kesuksesan penyelenggaraan BWB Expo 2026, serta menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan dalam mendorong pertumbuhan industri wellness yang berkualitas dan berkelanjutan. Puncak acara ditandai dengan closing ceremony yang turut dihadiri oleh Bagus Rachman, Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Republik Indonesia.Kehadiran Kementerian UMKM pada seremoni penutupan menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri wellness dan beauty yang semakin berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, penguatan UMKM, serta promosi Indonesia sebagai destinasi wellness dunia. Dengan berakhirnya Bali Wellness and Beauty Expo 2026, penyelenggara optimis bahwa expo ini akan terus berkembang sebagai platform internasional yang mempertemukan pelaku industri wellness, beauty, health, spa, hospitality, dan lifestyle, sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai salah satu destinasi wellness terkemuka di dunia. (lan) Sumber artikel: Perspectives News.com https://www.perspectivesnews.com/2026/06/partisipasi-ratusan-brand-di-bwb-expo.html

Wamenpar Ungkap Kunjungan Wisman Tumbuh 8 Persen di Tengah Geopolitik Global, Apa Peran Bali?
Jun 05, 2026 Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali

Wamenpar Ungkap Kunjungan Wisman Tumbuh 8 Persen di Tengah Geopolitik Global, Apa Peran Bali?

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketangguhan sektor pariwisata Indonesia teruji nyata di tengah tingginya tensi geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi dunia yang luar biasa.Alih-alih merosot, angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke tanah air sepanjang Januari hingga April 2026 justru menunjukkan pertumbuhan positif yang signifikan. Sebagaimana disampaikan Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, dalam pidato pengarahan deklarasi Indonesia Wellness and Beauty Entrepreneur Association (IWBEA) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali pada Jumat 5 Juni 2026."Sepanjang Januari hingga April 2026 ini, kita menerima kunjungan 4,68 juta wisatawan mancanegara atau tumbuh sekitar 8 persen lebih, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025," ungkap Ni Luh Puspa.Fenomena ini didorong oleh pergeseran perilaku wisatawan pasca pandemi COVID-19 yang kini berorientasi pada perjalanan holistik mencari makna hidup, koneksi dengan alam, serta kebugaran fisik, mental, dan spiritual. Dalam lanskap pertumbuhan tersebut, Bali memegang peranan krusial sebagai pilar utama sekaligus generator pariwisata kebugaran nasional. Filosofi hidup masyarakat Bali yang menempatkan harmoni antara alam, manusia, dan spiritualitas secara inheren menjadi daya tarik magis bagi dunia, membuat Bali tetap mendominasi total kunjungan pariwisata Indonesia pada triwulan pertama 2026. KEK Sanur yang diproyeksikan sebagai pusat kebugaran baru ini melengkapi kesiapan Bali untuk menangkap proyeksi pertumbuhan pasar global wellness tourism yang diperkirakan tumbuh di atas 10 persen per tahun hingga 2029."Kementerian Pariwisata mencatat bahwa pasar wellness tourism global ini diproyeksikan tumbuh dengan rata-rata lebih dari 10 persen per tahun hingga tahun 2029, menjadikannya sebagai salah satu peluang terbesar dalam industri perjalanan dunia," tuturnya.Melalui ajang Bali Wellness and Beauty Expo (BWB Expo) 2026, terjadi lonjakan peserta hingga 35 persen dengan total 95 stan dan keterlibatan 140 merek, yang membuktikan tingginya kepercayaan pasar domestik dan internasional terhadap ekosistem kebugaran di Bali.Komparasi strategis ditunjukkan oleh dua kementerian dalam mendorong industri ini. Dari perspektif makro pariwisata, Wamenpar Ni Luh Puspa menekankan penempatan wellness tourism sebagai strategi diversifikasi produk wisata untuk mendatangkan wisatawan berkualitas, memperpanjang durasi tinggal.Selain itu, meningkatkan pengeluaran belanja (spending) demi dampak ekonomi lokal yang berkelanjutan. "Bali punya daya tarik luar biasa, jumlah kunjungan Indonesia masih didominasi jumlah kunjungan ke Bali termasuk dalam Triwulan tahun 2026 ini," ujarnya.Sebaliknya, dari ceruk penguatan fondasi usaha, Wakil Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Helvi Yuni Moraza, membedah struktur industri ini yang didominasi oleh pelaku usaha mikro.Wamen UMKM memaparkan data Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) UMKM per Desember 2025, di mana terdapat 92.689 UMKM di sektor kecantikan dan kebugaran, dengan komposisi mengejutkan yakni 99,75 persen merupakan usaha mikro, 0,22 persen usaha kecil, dan hanya 0,03 persen usaha menengah.Di sinilah letak komparasi fokus keduanya ketika Kemenpar bergerak menarik pasar dan mengemas destinasi, Kementerian UMKM bergerak di hilir dengan target menaikkan kelas para pelaku usaha mikro ini melalui konsolidasi organisasi, peningkatan kapasitas produk, pembiayaan, hingga target rasio kewirausahaan nasional sebesar 3,2 persen pada tahun 2026."Kementerian UMKM ditugaskan untuk target pertumbuhan ekonomi pemerintah melalui UMKM naik kelas dan pertumbuhan wirausaha. Pada tahun 2026, proporsi jumlah usaha kecil menengah sebagai indikator UMKM naik kelas ditargetkan mencapai 3,15 persen," kata dia."Dan rasio kewirausahaan nasional sebagai indikator pertumbuhan wirausaha ditargetkan mencapai 3,2 persen. Ke depan kita jadikan UMKM dan wirausaha sebagai aktor ekonomi yang produktif dan mendorong ekonomi nasional," sambung Helvi.Wamen UMKM, menambahkan bahwa potensi kekayaan hayati Indonesia sangat melimpah dengan lebih dari 30.000 spesies tanaman berpotensi bahan baku wellness.Berdasarkan peta jalan ASEAN, Indonesia diamanatkan memimpin dalam bidang holistic wellness berbasis alam, dan Bali ditetapkan sebagai proyek percontohan (pilot project) utamanya."Kabinet di bawah Presiden Prabowo Subianto bahkan telah mengalokasikan dukungan pembiayaan hingga Rp320 triliun bagi UMKM untuk memastikan akselerasi ini," jelasnya.Helvi berpesan agar seluruh pelaku usaha memegang teguh prinsip LIDI, yakni Loyalitas, Integritas, Disiplin, dan Inovatif, agar mampu memenangi persaingan global dan menempatkan Indonesia di posisi nomor dua dunia dalam industri kebugaran masa depan.Pemerintah Provinsi Bali mengunci kesiapan ekosistem ini melalui regulasi yang kokoh.Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, yang mewakili Gubernur Bali, memaparkan bahwa Bali telah memayungi industri ini melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 55 Tahun 2019 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional. Regulasi ini memberikan kepastian hukum dan tata kelola bagi pelestarian pengobatan tradisional Bali yang holistik, mulai dari sertifikasi pengusada, pendirian panti sehat usada, hingga standardisasi jamu, spa, dan produk herbal lokal."Bali memiliki kekuatan yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yaitu harmoni antara alam, budaya, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Tri Hita Karana," ujar Sumarajaya."Nilai inilah yang menjadi fondasi berkembangnya berbagai layanan wellness, mulai dari spa, yoga, meditasi, healing tourism, pengobatan tradisional, hingga gaya hidup sehat yang kini semakin diminati oleh para wisatawan dunia," imbuhnya. Pergub ini menjadi instrumen integrasi kebugaran tradisional ke dalam industri pariwisata modern berbasis visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, demi mewujudkan pariwisata kebugaran yang ramah lingkungan dan menyejahterakan masyarakat daerah."Dalam beberapa tahun ini, industri wellness telah berkembang menjadi salah satu pilar utama pariwisata global," bebernya. Deklarasi wadah profesi ini dikumandangkan secara langsung oleh Sekretaris Jenderal IWBEA, Feri Augustian Soleh. Di hadapan pimpinan kementerian, lembaga, dan delegasi negara sahabat, Feri membacakan naskah deklarasi yang menandai babak baru industri kebugaran tanah air."Kami para pengusaha, praktisi, akademisi, peneliti, dan pemerhati industri wellness dan kecantikan di Indonesia menyadari sepenuhnya potensi besar kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal Nusantara, dengan ini menyatakan pendirian sebuah wadah organisasi profesi dan wirausaha yang bernama IWBEA," ujar Feri dalam deklarasinya.Asosiasi ini berkomitmen mengawal empat prinsip utama, yakni pelestarian kearifan lokal, keberlanjutan lingkungan, sinergi kewirausahaan, serta pemenuhan standar global melalui akselerasi riset dan teknologi untuk melahirkan produk kebugaran Indonesia yang aman, bermutu, dan terpercaya di panggung dunia.Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Wamenpar Ungkap Kunjungan Wisman Tumbuh 8 Persen di Tengah Geopolitik Global, Apa Peran Bali?, https://bali.tribunnews.com/bali/599072/wamenpar-ungkap-kunjungan-wisman-tumbuh-8-persen-di-tengah-geopolitik-global-apa-peran-bali?page=3.Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi

Buka BWB Expo 2026, Wamenpar: Refleksi Berkembangnya Wellness Sebagai Masa Depan Ekonomi Pariwisata
Jun 05, 2026 Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali

Buka BWB Expo 2026, Wamenpar: Refleksi Berkembangnya Wellness Sebagai Masa Depan Ekonomi Pariwisata

DENPASAR – Bali kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat wellness dunia melalui pembukaan Bali Wellness and Beauty Expo (BWB Expo) 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Jumat (5/6/2026). Tidak hanya menjadi ajang pameran industri wellness dan kecantikan, momentum ini juga ditandai dengan deklarasi Indonesia Wellness and Beauty Entrepreneurs Association (IWBEA) sebagai wadah kolaborasi nasional bagi para pelaku industri tersebut. Pembukaan BWB Expo 2026 dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya Co-Founder dan Managing Director BWB Expo 2026 Dr. Diah Permana, Group CEO Bank Rakyat Indonesia Hery Gunardi, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Dr. I Wayan Sumarajaya yang mewakili Gubernur Bali, Wakil Menteri UMKM RI Helvi Yuni Moraza, serta Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa yang secara resmi membuka kegiatan. Mengusung tema “Thrive in Bali: Where Wellness Inspires the World”, penyelenggaraan tahun ini menegaskan peran Bali sebagai destinasi yang tidak hanya unggul di sektor pariwisata, tetapi juga sebagai pusat pengembangan wellness berbasis budaya, alam, spiritualitas, dan keberlanjutan. Saat membuka secara resmi Bali Wellness and Beauty Expo 2026, Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa menyampaikan apresiasinya atas perkembangan BWB Expo yang dinilai semakin besar dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan industri wellness nasional. “Saya bangga bisa hadir kembali di Bali Wellness and Beauty Expo yang tahun ini tampil lebih besar, lebih menggema, dan luar biasa. Expo ini bukan sekadar ruang bertemunya para pelaku industri wellness dan beauty, tetapi juga merefleksikan berkembangnya gerakan global yang menempatkan kesehatan, wellness, dan kualitas hidup sebagai bagian penting dari masa depan ekonomi pariwisata,” ujarnya. Dikatakan, Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global, termasuk ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik dunia.“Di tengah situasi global yang tidak menentu dan berbagai tantangan geopolitik, pariwisata Indonesia tetap tangguh dan menunjukkan pertumbuhan yang positif. Salah satu sektor yang berkembang paling pesat adalah wellness tourism, terutama sejak pandemi Covid-19 yang mengubah pola pikir masyarakat dunia terhadap kesehatan dan kualitas hidup,” katanya. Ia menjelaskan bahwa wisatawan kini tidak hanya mencari destinasi untuk berlibur, tetapi juga pengalaman yang mampu meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia, khususnya Bali, untuk menjadi destinasi wellness kelas dunia. “Indonesia memiliki kekayaan alam, budaya, tradisi pengobatan, serta kearifan lokal yang menjadi modal kuat dalam pengembangan wellness tourism. Bali telah menunjukkan bagaimana unsur budaya, spiritualitas, dan keberlanjutan dapat menjadi daya tarik yang unik dan bernilai tinggi bagi wisatawan global,” tambahnya. Ni Luh Puspa berharap Bali Wellness and Beauty Expo dapat menjadi platform strategis yang mempertemukan inovasi, investasi, dan kolaborasi lintas sektor guna memperkuat posisi Indonesia dalam industri wellness dunia yang terus berkembang pesat. Co-Founder dan Managing Director BWB Expo 2026, Dr. Diah Permana, mengatakan expo ini dirancang sebagai platform strategis yang mempertemukan pelaku usaha, investor, akademisi, komunitas, hingga pemerintah dalam membangun ekosistem wellness yang lebih kuat dan terintegrasi.“Melalui Bali Wellness and Beauty Expo 2026, kami ingin mendorong lahirnya ekosistem wellness yang lebih terintegrasi, kolaboratif, dan berdaya saing global. Bali memiliki kekuatan unik dari sisi budaya, alam, dan spiritualitas yang dapat menjadi inspirasi bagi dunia,” ujarnya. Sementara itu, Group CEO Bank Rakyat Indonesia, Hery Gunardi, menekankan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung pertumbuhan industri wellness dan kecantikan yang berkelanjutan. Menurutnya, sektor ini memiliki potensi besar untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Mewakili Pemerintah Provinsi Bali, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sumarajaya, menyampaikan dukungan penuh terhadap pengembangan sektor wellness yang selaras dengan visi pembangunan pariwisata Bali yang berkualitas dan berkelanjutan. Wellness dinilai mampu memperkuat daya saing Bali sekaligus mendorong pelestarian budaya dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Wakil Menteri UMKM RI, Helvi Yuni Moraza, menegaskan bahwa industri wellness dan kecantikan membuka peluang besar bagi pelaku UMKM Indonesia untuk berkembang dan menembus pasar internasional. “Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa sebagai fondasi pengembangan industri wellness. Dengan inovasi, peningkatan kualitas, dan kolaborasi yang kuat, sektor ini dapat menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya. Saat membuka secara resmi BWB Expo 2026, Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, menyoroti semakin meningkatnya minat wisatawan global terhadap wellness tourism. Menurutnya, Bali memiliki modal kuat untuk menjadi destinasi wellness unggulan dunia melalui pendekatan yang menggabungkan kesehatan, budaya, alam, dan spiritualitas. Pembukaan expo turut dimeriahkan dengan pertunjukan budaya serta seremoni simbolis “Sacred Bloom Ceremony: Planting the Foundation of Wellness on the Tree of Life”, yang menggambarkan harapan akan tumbuhnya industri wellness Indonesia secara harmonis dan berkelanjutan. (dha) Sumber artikel: Wartra Bali https://wartabalionline.com/2026/06/05/buka-bwb-expo-2026-wamenpar-refleksi-berkembangnya-wellness-sebagai-masa-depan-ekonomi-pariwisata/

IWBEA Resmi Lahir di Bali, Industri Wellness Indonesia Bersatu Bidik Pasar Global
Jun 05, 2026 Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali

IWBEA Resmi Lahir di Bali, Industri Wellness Indonesia Bersatu Bidik Pasar Global

INDOBALINEWS – Industri wellness dan beauty Indonesia memasuki babak baru. Momentum Bali Wellness and Beauty (BWB) Expo 2026 di The Meru Sanur, Bali, Jumat 5 Juni 2026, tidak hanya menjadi ajang pameran industri, tetapi juga melahirkan Indonesia Wellness and Beauty Entrepreneur Association (IWBEA), sebuah wadah kolaborasi nasional yang diharapkan memperkuat daya saing Indonesia di pasar wellness global yang nilainya diproyeksikan mencapai USD 9,8 triliun pada 2029. Deklarasi IWBEA menjadi salah satu agenda penting dalam pembukaan BWB Expo 2026 yang diresmikan Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa. Penandatanganan kesepakatan pembentukan asosiasi tersebut dilakukan oleh Co-Founder BWB, Kementerian UMKM, dan para pemangku kepentingan, disaksikan langsung oleh Menteri Pariwisata. Ni Luh Puspa menegaskan bahwa pengembangan sektor wellness dan beauty kini menjadi bagian penting dari strategi nasional dalam membangun pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. “BWB Expo bukan sekadar ruang temu industri, tetapi juga ruang refleksi terhadap gerakan global yang menempatkan kesehatan, wellness, dan kualitas hidup sebagai bagian penting masa depan ekonomi pariwisata,” ujar Ni Luh Puspa dalam acara yang digelar di The MEru Sanur Jumat 5 Juni 2026.Menurutnya, Kementerian Pariwisata telah menetapkan wellness tourism sebagai salah satu fokus pengembangan pariwisata minat khusus sejak 2025. Langkah ini dilakukan untuk memperluas ragam produk wisata Indonesia sekaligus menarik wisatawan berkualitas dengan masa tinggal lebih lama dan pengeluaran lebih tinggi.“Ini bukan hasil Kementerian Pariwisata saja, tetapi hasil kolaborasi lintas sektor yang luar biasa. Salah satu segmen yang tumbuh paling cepat adalah wellness,” katanya.Data Kemenpar menunjukkan Indonesia menerima 4,68 juta wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga April 2026 atau meningkat sekitar 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ni Luh Puspa menjelaskan, perubahan perilaku wisatawan pascapandemi menjadi faktor utama berkembangnya sektor ini.“Dulu liburan untuk hiburan. Sekarang wisatawan datang mencari makna, hubungan dengan alam, manusia, dan diri sendiri. Ini tren yang berkembang luar biasa sejak pandemi,” jelasnya.Mengacu pada data Global Wellness Institute, ekonomi wellness global mencapai USD 6,8 triliun pada 2024 dan diproyeksikan tumbuh menjadi USD 9,8 triliun pada 2029. Sementara pasar wellness tourism diperkirakan meningkat sekitar 10 persen per tahun hingga 2029.“Ini peluang yang harus kita tangkap bersama dengan kekayaan alam dan budaya Indonesia. Sanur diproyeksikan menjadi pusat beauty and wellness tourism Indonesia dan simbol transformasi menuju destinasi wisata kelas dunia. BWB Expo 2026 menjadi bukti nyata Indonesia semakin serius membangun ekosistem wellness yang terintegrasi,” ujar Ni Luh Puspa.Antusiasme industri terhadap sektor ini juga terus meningkat. Tahun ini BWB Expo menghadirkan 95 booth atau naik 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan lebih dari 140 perusahaan yang berpartisipasi, termasuk peserta dari Jepang dan Singapura.Ketua Panitia sekaligus Co-Founder BWB Bali, Dr. Diah Permana Tirtawati, mengatakan tema tahun ini, “There in Bali Where Balinese Inspire the World”, lahir dari keyakinan bahwa Bali dan Indonesia memiliki nilai yang relevan bagi dunia.“Bukan hanya alam dan budaya yang kita miliki, tetapi juga filosofi hidup yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas,” kata Dr. Diah. Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama dalam industri wellness global.“Dengan kekayaan alam, kearifan budaya, tradisi kesehatan, serta jutaan pelaku UMKM kreatif dan inovatif, Indonesia memiliki fondasi untuk membangun sektor ekonomi wellness yang berdaya saing global,” ujarnya.Karena itu, IWBEA dibentuk sebagai wadah bersama yang menghimpun pelaku usaha, profesional, akademisi, dan pemangku kepentingan di sektor wellness dan kecantikan.“IWBEA hadir untuk menggerakkan visi tersebut bersama pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat,” tegas Dr. Diah.Asosiasi ini akan berfokus pada penguatan kapasitas UMKM, pengembangan standar layanan, riset dan inovasi, hingga promosi Indonesia sebagai destinasi serta eksportir produk dan layanan wellness ke pasar internasional.Pemerintah pun menyambut positif pembentukan asosiasi tersebut. Menurut Ni Luh Puspa, wellness dan business event merupakan dua sektor yang saling menguatkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan pariwisata yang lebih berkualitas.“Di tengah tantangan global, ini momentum paling tepat memperkuat kerja sama lintas sektor dan lintas negara. IWBEA akan menjadi penggerak terwujudnya Indonesia sebagai rumah bagi praktik wellness yang mendorong gaya hidup sehat, keseimbangan, dan keberlanjutan,” katanya. Dengan lahirnya IWBEA, Indonesia kini tidak hanya menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga membangun ekosistem wellness nasional yang terintegrasi, mulai dari UMKM lokal, layanan profesional, riset akademik, hingga destinasi unggulan seperti Sanur yang diproyeksikan menjadi pusat wellness dan beauty tourism nasional. Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat diharapkan mampu menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat wellness dan beauty terkemuka di dunia.Sumber Artikel berjudul " IWBEA Resmi Lahir di Bali, Industri Wellness Indonesia Bersatu Bidik Pasar Global ", selengkapnya dengan link: https://indobalinews.pikiran-rakyat.com/bali-nusra/pr-8810252502/iwbea-resmi-lahir-di-bali-industri-wellness-indonesia-bersatu-bidik-pasar-global?page=all Penulis: Shira AdeEditor: Tim Indo Bali News

Wamenpar : Wellness dan Beauty Pilar Baru Ekonomi Pariwisata Berkualitas Menuju Destinasi Kelas Dunia
Jun 05, 2026 Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali

Wamenpar : Wellness dan Beauty Pilar Baru Ekonomi Pariwisata Berkualitas Menuju Destinasi Kelas Dunia

Denpasar – Nusantarajayanews.id | Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa secara resmi membuka Bali Wellness and Beauty (BWB) Expo 2026, Jumat 5/6/2026 di The Meru Sanur Bali. Pembukaan menandai komitmen pemerintah menjadikan wellness dan beauty sebagai pilar strategis pariwisata minat khusus untuk mendorong pariwisata Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan. Dalam sambutannya, Ni Luh Puspa menegaskan ekspo ini bukan sekadar ruang temu industri melainkan sebagai ruang merefleksikan gerakan global yang menempatkan kesehatan, wellness, dan kualitas hidup sebagai bagian penting masa depan ekonomi pariwisata. Melalui momentum ini, Indonesia terus memperkuat posisi sebagai destinasi pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Ni Luh Puspa mengatakan, Kemenpar telah menetapkan wellness tourism sebagai fokus pengembangan pariwisata minat khusus sejak 2025. Kebijakan ini bagian dari strategi diversifikasi produk wisata untuk menarik wisatawan berkualitas, meningkatkan lama tinggal, dan memberi dampak ekonomi lebih besar bagi masyarakat lokal. Di tengah tensi geopolitik global, Ni Luh Puspa menagatakan, Jan-Apr 2026 Indonesia telah menerima 4,68 juta wisatawan mancanegara, tumbuh 8% lebih dibanding periode sama 2025.“Ini bukan hasil Kemenpar saja, tapi kolaborasi lintas sektor yang luar biasa. Salah satu segmen yang tumbuh paling cepat adalah wellness,” jelasnya. Menurut Wamenpar, Perubahan perilaku wisatawan pasca Covid-19 menjadi pendorong utama.“Dulu liburan untuk hiburan. Sekarang wisatawan datang mencari makna: hubungan dengan alam, manusia, dan diri sendiri. Ini tren yang berkembang luar biasa sejak pandemi,” kata Ni Luh Puspa. Mengutip Global Wellness Institute, Wamenpar menyebutkan, nilai ekonomi wellness global mencapai USD 6,8 triliun pada tahun 2024, naik 7,9% YoY dua kali lipat sejak 2013. Proyeksi ditahun 2029 tembus USD 9,8 triliun dengan CAGR 7,6%/tahun. Pasar wellness tourism global diproyeksi mengalami peningkatan 10% per tahun hingga 2029. “Ini peluang yang harus kita tangkap bersama dengan kekayaan alam dan budaya Indonesia. Sanur diproyeksikan menjadi pusat beauty and wellness tourism Indonesia dan simbol transformasi menuju destinasi wisata kelas dunia. BWB Expo 2026 bukti nyata Indonesia semakin serius membangun ekosistem wellness terintegrasi,” tambah Ni Luh Puspa. Antusiasme industri meningkat signifikan. Tahun ini BWB Expo hadirkan 95 booth, naik 35% dari 80 booth tahun lalu. Lebih dari 140 perusahaan yang ikut berpartisipasi, termasuk peserta dari Jepang dan Singapura. Dr. Diah Permana Tirtawati, Ketua Panitia sekaligus Co-Founder BWB Bali, menyampaikan tema tahun ini, There in Bali where Balinese Inspire the World” Tema ini lahir dari keyakinan Bali dan Indonesia punya sesuatu berharga untuk dunia. Bukan hanya alam dan budaya, tapi filosofi hidup yang mengajarkan keseimbangan manusia, alam, spiritualitas. Dr. Diah juga menyoroti potensi ekonomi kesehatan. Dengan kekayaan alam, kearifan budaya, tradisi kesehatan, dan jutaan UMKM kreatif, Indonesia punya fondasi kuat bangun sektor ekonomi berdaya saing global, berkelanjutan, dan tingkatkan kesejahteraan manusia. Sebagai tindak lanjut kolaborasi, Indonesia Wellness and Beauty Entrepreneur Association (IWBEA) resmi terbentuk.bIWBEA menjadi wadah nasional pelaku usaha, profesional, akademisi, dan pemangku kepentingan wellness & kecantikan dengan visi menjadikan Indonesia pusat usaha wellness dan kecantikan. Puncak acara ditandai penandatanganan kesepakatan pembentukan IWBEA oleh Co-Founder BWB, KemenUMKM, dan pemangku kebijakan, disaksikan Wamenpar Ni Luh Puspa. Penandatanganan sebagai simbol komitmen bersama mendukung IWBEA sebagai penggerak ekosistem. Bali Wellness and Beauty Expo adalah business event tahunan yang mempertemukan ide, inovasi, investasi, dan peluang bisnis wellness and beauty. Tahun kedua ini BWB memperkuat perannya sebagai penggerak ekonomi daerah melalui peningkatan kunjungan wisman, okupansi hotel, transaksi bisnis, investasi, hingga pemberdayaan UMKM lokal. (tik) Sumber artikel: Nusantara Jaya News https://nusantarajayanews.id/2026/06/wamenpar-wellness-dan-beauty-pilar-baru-ekonomi-pariwisata-berkualitas-menuju-destinasi-kelas-dunia/Penulis: Tika

Bersandar Pada Warisan Kolonial, Target Ekonomi Wisata Kebugaran di Bali Terganjal Sertifikasi UMKM
Jun 04, 2026 Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali

Bersandar Pada Warisan Kolonial, Target Ekonomi Wisata Kebugaran di Bali Terganjal Sertifikasi UMKM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ambisi Pemerintah Pusat untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen melalui sektor pariwisata kebugaran (wellness tourism) menghadapi tantangan berat di lapangan. Di Bali, yang menjadi episentrum sektor ini, potensi perputaran ekonomi yang besar masih terhambat oleh minimnya standardisasi, sertifikasi produk, serta karut-marut tata kelola usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal yang belum bankable.  Kondisi krusial ini mencuat dalam Plenary Session hari pertama Bali Wellness and Beauty Expo (BWB Expo) 2026 bertajuk "Building Indonesia's Wellness Economy: Towards a Globally Competitive and Sustainable Ecosystem" yang digelar di The Meru Sanur Denpasar, Bali, pada Kamis 4 Juni 2026. Diskusi yang dipandu oleh Guru Besar Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Darma Putra, membedah fakta bahwa industri wellness bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan sektor strategis yang mendesak untuk dibenahi demi menopang pertumbuhan ekonomi daerah.Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Dida Gardera, mengungkapkan bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun ini sebenarnya mencetak angka impresif 5,61 persen, salah satu yang tertinggi dalam sejarah. Namun, angka itu belum cukup untuk menyerap ledakan angkatan kerja baru di Indonesia yang mencapai 3,5 hingga 4 juta orang per tahun. Menurut hukum pasar, setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 400.000 orang. Guna menutup celah pengangguran, target pertumbuhan 8 persen menjadi harga mati, dan industri kebugaran lokal dipaksa menjadi mesin penggerak baru.Dida Gardera mengingatkan, secara historis tanah air—termasuk Bali menjadi magnet dunia karena kekayaan alam dan pengobatan tradisionalnya.  Ia menilai sudah saatnya Indonesia membalikkan keadaan agar tidak sekadar menjadi pasar konsumsi produk asing."Kalau kita baca sejarah, dulu orang-orang dalam tanda petik 'penjajah' datang ke sini karena kekayaan itu, salah satunya rempah-rempah, keunggulan tradisional, skill dan pengalaman kita," ujar Dida. "Ini sudah baik, tapi tentu masih perlu kita tingkatkan karena wellness banyak menyentuh UMKM," imbuhnya.  Sayangnya, romantisme sejarah tersebut berbenturan dengan realitas kesiapan pelaku usaha di hilir. Berdasarkan data basis pemetaan SMESCO Indonesia, dari sekitar 104.000 UMKM yang berada di bawah binaan mereka, jumlah pelaku usaha yang benar-benar bergerak dan terserap di sektor wellness and beauty baru menyentuh angka kritis, yakni kisaran 1 persen saja.  CEO SMESCO Indonesia, Doddy Akhmadsyah Matondang, menyatakan hambatan terbesar bagi produk kebugaran dan kecantikan lokal untuk menembus pasar internasional terletak pada buruknya pemenuhan aspek legalitas dasar. Produk-produk lokal Bali kerap kali kalah bersaing di tingkat global akibat abai terhadap standarisasi mutu."Akan susah bersaing bagi produk-produk beauty and wellness ketika secara legalitasnya tidak ada, sertifikasinya tidak ada, lalu akses pembiayaan dan akses pasarnya terbatas," tegas Doddy. Aspek sertifikasi bertaraf internasional ini juga diamini oleh Asisten Deputi Pengembangan Usaha dan Akses Permodalan Kementerian Pariwisata RI, Hanifah. Kemenpar mendesak agar seluruh rantai industri kebugaran di Bali, mulai dari kualitas produk, jasa, hingga kompetisi sumber daya manusia (SDM) pelayanannya, segera di validasi dengan standar global. Hal ini krusial karena keunikan tradisi wellness di Bali berbeda dengan wilayah lain di Nusantara dan harus memiliki proteksi hukum serta nilai jual yang kuat di mata wisatawan asing. Merespons ketimpangan tersebut, Kementerian UMKM RI mencoba menerapkan strategi intervensi melalui konsep Holding UMKM. Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Menengah Kementerian UMKM RI, Metty Kusmayantie, menjelaskan bahwa skema ini menunjuk usaha kelas menengah yang sudah mapan untuk bertindak sebagai jangkar ekosistem. Usaha menengah inilah yang diwajibkan menarik, menginkubasi, serta mengagregasi para petani kecil seperti petani minyak atsiri dan bahan herbal di Bali ke dalam rantai pasok industri kecantikan yang lebih profesional.Keterlibatan perbankan pun menjadi batu ujian likuiditas bagi sektor yang dinilai masih rapuh ini. Regional CEO BRI Bali Nusra, Hery Noercahya, memaparkan data makroekonomi daerah di mana sektor pariwisata menyumbang hingga 65 persen bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Bali. Hasil analisis pasar tahun lalu menunjukkan, dari total 6,9 juta wisatawan mancanegara yang masuk ke Pulau Dewata, sebanyak 23 persen di antaranya menempatkan wellness sebagai tujuan utama kunjungan mereka.Namun, perputaran uang dari jutaan wisman tersebut belum dinikmati secara merata oleh pelaku lokal lantaran masalah klasik perbankan mayoritas UMKM kebugaran di Bali belum masuk kategori bankable. Banyak dari mereka tidak memiliki pembukuan keuangan yang rapi, strategi penetrasi pasar yang jelas, maupun manajemen usaha yang terstruktur."Kami menyadari pelaku usaha UMKM itu mulai dari yang enggak rapi bahasa banknya belum bankable sampai yang sedikit profesional," ujarnya.  "Di situlah kami masuk, yang enggak bankable pun kita ajak kerja sama lewat berbagai skema berkelanjutan seperti PNM untuk yang sangat mikro, lalu KUR, hingga program AKUR (Alumni KUR) agar mereka bisa dilepas dari subsidi dan mandiri berdiri sendiri," jelas Hery. Dari perspektif medis dan regulasi kewilayahan, Ketua Bali Medical Tourism Association, dr. Gede Wiryana Patra Jaya, M.Kes., menekankan pentingnya integrasi antara kesehatan formal dengan industri kebugaran tradisional. Berpayung hukum di bawah Nota Kesepahaman (MoU) antara Menteri Pariwisata dan Menteri Kesehatan, Bali kini tengah didorong untuk mengembangkan klaster baru, yakni Medical Wellness Tourism.  Langkah ini diambil guna memastikan bahwa perlindungan medis bagi wisatawan berjalan selaras dengan komersialisasi industri kebugaran lokal yang sedang digenjot.Melalui pelaksanaan BWB Expo 2026, urgensi pembenahan regulasi, lompatan investasi lintas sektor, serta pembersihan hambatan birokrasi sertifikasi produk lokal mendesak untuk segera dieksekusi. Tanpa langkah konkret tersebut, target ambisius menjadikan Indonesia sebagai produsen inovasi dan pusat pengembangan ekonomi kebugaran dunia hanya akan menempatkan Bali sebagai penonton di tengah eksploitasi pasar global.Hal ini ditegaskan, Co-Founder dan Managing Director Bali Wellness and Beauty Expo, Dr. Diah Permana menyampaikan bahwa Indonesia memiliki seluruh modal yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu pusat wellness dunia.“Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa, warisan budaya dan tradisi kesehatan yang telah hidup selama berabad-abad, serta jutaan pelaku UMKM yang kreatif dan inovatif," kata dia. Menurut Diah, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi industri wellness dunia. Sudah saatnya Indonesia mengambil peran yang lebih besar sebagai produsen inovasi, pusat pengembangan wellness, serta destinasi yang mampu menginspirasi dunia melalui kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal yang dimiliki. "Dengan dukungan kebijakan yang tepat, investasi yang berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun Wellness Economy yang tidak hanya berdaya saing global, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” jabarnya.Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Bersandar Pada Warisan Kolonial, Target Ekonomi Wisata Kebugaran di Bali Terganjal Sertifikasi UMKM, https://bali.tribunnews.com/denpasar/598975/bersandar-pada-warisan-kolonial-target-ekonomi-wisata-kebugaran-di-bali-terganjal-sertifikasi-umkm?page=3.Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Ngurah Adi Kusuma

Plenary Session BWB Expo 2026,Sepakati Wellness sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru
Jun 04, 2026 Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali

Plenary Session BWB Expo 2026,Sepakati Wellness sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru

Denpasar –Nusantarajayanews.id | Pembukaan Bali Wellness and Beauty (BWB) Expo 2026 ke-2, pada kamis (4/6/2026) di The Meru, di buka dengan sesi diskusi (Plenary Session). Sesi dialog strategis ini dipandu Prof. I Nyoman Darma Putra dan mempertemukan pemangku kebijakan serta pelaku industri, untuk membahas prioritas kebijakan pembangunan ekonomi berbasis wellness. Diskusi menegaskan konsensus bahwa wellness bukan hanya tren, tetapi sektor strategis yang menyentuh pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Hadir sebagai pembicara dalam sesi tersebut antara lain, Dida Gardera, S.T., M.Sc., Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Metty Kusmayantie, Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Menengah, Kementerian UMKM RI, serta, ⁠Hanifah, Asisten Deputi Pengembangan Usaha dan Akses Permodalan, Kementerian Pariwisata RI. Diskusi juga diperkuat oleh perspektif dunia usaha dan industri melalui kehadiran Doddy Akhmadsyah Matondang, CEO SMESCO Indonesia; ⁠Hery Noercahya, Regional CEO BRI Bali Nusra; serta dr. Gede Wiryana Patra Jaya, M.Kes., Ketua Bali Medical Tourism Association. Dida Gardera, S.T.,/M.Sc., Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kemenko Perekonomian RI, membuka diskusi dengan menekankan urgensi wellness.“Pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 5,61% sudah tertinggi sepanjang sejarah RI. Tapi 1% pertumbuhan hanya menciptakan 400 ribu kerja, sementara angkatan kerja baru 3,5-4 juta/tahun. Target 8% realistis. Kita butuh mesin pertumbuhan yang lebih nah yang belum digali optimal salah satunya wellness,” ujarnya. Ia menambahkan wellness banyak menyentuh UMKM. Namun belum mampu dikembangkan secara optimal sehingga butuh keseriusan pemerintah untuk mendorongnya.“Kalau kita kembangkan wellness, pariwisata ekonomi kreatif dapat, UMKM juga dapat. Pemerintah sudah keluarkan kebijakan seperti penurunan bunga KUR, dan hal lain yang perlu didorong lagi.”imbuhnya. Metty Kusmayantie, Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Menengah KemenUMKM, memaparkan strategi holding UMKM, dimana usaha menengah bisa dijadikan jangkar untuk agregasi, inkubasi, perluasan pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan bagi 50 juta UMKM mikro.“Tahun ini wellness and beauty kami ajukan sebagai salah satu kluster holding UMKM. Indonesia negara terbesar ke-20 untuk wellness & beauty dengan pertumbuhan masif. Rantai pasoknya sudah pasti melibatkan UMKM,” kata Metty. Sementara Hanifah, Asisten Deputi Pengembangan Usaha dan Akses Permodalan Kemenpar, menyoroti wellness sebagai daya tarik utama wisatawan mancanegara, terutama di Bali.“Kita harus pastikan industri wellness punya daya saing dan branding kuat nasional dan internasional. Fokusnya dengan meningkatkan kualitas produk, jasa, pelayanan, SDM, plus standarisasi sertifikasi travel internasional agar makin banyak wisatawan datang menikmati wellness Indonesia,” jelasnya. Doddy Akhmadsyah Matondang, CEO SMESCO Indonesia, menyoroti masih kecilnya porsi wellness di UMKM binaan. Menurutnya, dari 104 ribu UMKM, hanya 1% di beauty & wellness. Padahal ini energi terbarukan untuk sustainability ekonomi Indonesia. Untuk itu, SMESCO kini mengarahkan etalase khusus beauty & wellness di Jakarta dengan menyediakan layanan end-to-end. “Legalitas, sertifikasi, pembiayaan, akses pasar harus beres. Harapannya produk wellness UMKM angkat identitas Indonesia di pasar global,” tegasnya. Hery Noercahya, Regional CEO BRI Bali Nusra, menyebut, 23% dari 6,9 juta wisatawan 2025 menjadikan wellness destinasi utama. Berdasarkan data, Ia mengatakan bahwa, industri wellness 100% adalah UMKM. “Di BRI Bali 80% portofolio kami UMKM.”ungkapnya. Ia menegaskan bahwa BRI menyiapkan KUR dengan bunga subsidi, AKUR untuk naik kelas, hingga pendampingan ‘mantri’. “Pelaku wellness mulai dari belum bankable sampai profesional, BRI siap dampingi maju bareng,” ujarnya. dr. Gede Wiryana Patra Jaya, M.Kes., Ketua Bali Medical Tourism Association, dalam diskusi ini mwnyaoaikan bahwa Ia akan mendorong medical wellness tourism berbasis saintis. “Kami integrasikan medis konvensional, wellness, dan tradisional Bali dengan ukuran before-after. Payungnya MOU Menpar-Menkes. Ini kunci agar kompetitif global,” katanya. Menutup sesi diskusi, Prof. I Nyoman Darma Putra, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, dimana diskusi ini harus mampu melahirkan langkah nyata. Wellness economy Indonesia memiliki semua modal untuk memimpin, bukan hanya mengikuti. (tik) Sumber artikel: Nusantara Jaya NewsPenulis: Tika

BWB Expo 2026: Wellness Bukan Sekedar Gaya Hidup, Tetapi Kekuatan Baru Ekonomi Indonesia
Jun 04, 2026 Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali

BWB Expo 2026: Wellness Bukan Sekedar Gaya Hidup, Tetapi Kekuatan Baru Ekonomi Indonesia

INDOBALINEWS – Industri wellness kini berkembang jauh melampaui sekadar tren gaya hidup sehat. Di tengah pertumbuhan pesat pasar wellness global, Indonesia mulai memposisikan sektor ini sebagai salah satu pilar ekonomi masa depan yang mampu mendorong investasi, memperkuat UMKM, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pesan tersebut menjadi fokus utama dalam hari pertama Bali Wellness and Beauty Expo (BWB Expo) 2026 melalui Plenary Session bertajuk "Building Indonesia's Wellness Economy: Towards a Globally Competitive and Sustainable Ecosystem" yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari pemerintah, sektor keuangan, industri, akademisi, hingga praktisi  kesehatan Hadir sebagai pembicara antara lain Plt Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Dida Gardera, Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Menengah Kementerian UMKM RI Metty Kusmayantie, Asisten Deputi Pengembangan Usaha dan Akses Permodalan Kementerian Pariwisata RI Hanifah, CEO SMESCO Indonesia Doddy Akhmadsyah Matondang, Regional CEO BRI Bali Nusra Hery Noercahya, serta Ketua Bali Medical Tourism Association dr. Gede Wiryana Patra Jaya. Dipandu Guru Besar Universitas Udayana Prof. I Nyoman Darma Putra, para panelis sepakat bahwa wellness telah berkembang menjadi sektor strategis yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.  Co-Founder sekaligus Managing Director Bali Wellness and Beauty Expo, Dr. Diah Permana, mengatakan Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi salah satu pusat wellness dunia. "Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa, warisan budaya dan tradisi kesehatan yang telah hidup selama berabad-abad, serta jutaan pelaku UMKM yang kreatif dan inovatif. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, investasi yang berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun Wellness Economy yang tidak hanya berdaya saing global, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan," ujarnya. Menurut Diah, tema yang diangkat pada plenary session tahun ini mencerminkan pentingnya membangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, dunia usaha, sektor keuangan, akademisi, dan masyarakat. "Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi industri wellness dunia. Sudah saatnya Indonesia mengambil peran yang lebih besar sebagai produsen inovasi, pusat pengembangan wellness, serta destinasi yang mampu menginspirasi dunia melalui kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal yang dimiliki," tegasnya.Para narasumber juga menekankan pentingnya penguatan regulasi, peningkatan investasi, pengembangan sumber daya manusia, inovasi layanan, serta dukungan terhadap UMKM sebagai fondasi utama dalam membangun industri wellness yang inklusif dan berkelanjutan. Selain membahas aspek ekonomi, BWB Expo 2026 menghadirkan berbagai program yang menunjukkan bahwa wellness mencakup pendekatan kesehatan yang menyeluruh. Kegiatan diawali dengan sesi Harmony of Tradition: Yoga Bali Kuno yang mengangkat praktik kesehatan tradisional Bali sebagai bagian dari warisan budaya yang tetap relevan di era modern.Peserta juga mengikuti berbagai sesi interaktif seperti laughter yoga, diskusi kesehatan pencernaan dan nutrisi, pembahasan kesehatan mental, hingga mindfulness. Perhatian khusus diberikan kepada generasi muda melalui sesi "Wellness Among Gen-Z: Redefining Balance, Identity, and Wellbeing in the Digital Era" yang membahas tantangan menjaga kesehatan fisik dan mental di tengah kehidupan digital.Di area pameran, berbagai pelaku usaha memperkenalkan inovasi terbaru yang mencerminkan semakin luasnya cakupan industri wellness. Salah satunya adalah Gravity Stretching yang beroperasi di Canggu dan Ubud.Melalui pameran ini, Gravity Stretching memperkenalkan metode terapi dan latihan tubuh menggunakan sistem tali khusus yang memanfaatkan gaya gravitasi untuk membantu proses pemulihan dan peningkatan kesehatan tubuh. Gravity Stretching merupakan sistem latihan yang menggunakan posisi menggantung maupun setengah menggantung pada alat khusus untuk memanfaatkan gaya gravitasi secara optimal. Metode ini berfungsi sebagai dekompresi alami yang membantu meredakan nyeri punggung, memperbaiki postur tubuh, meningkatkan fleksibilitas sendi, serta mendukung kesehatan tulang belakang secara menyeluruh.Kehadiran berbagai inovasi seperti Gravity Stretching menunjukkan bahwa industri wellness saat ini tidak hanya berkaitan dengan produk kecantikan atau kebugaran, tetapi juga mencakup terapi preventif, rehabilitasi, kesehatan mental, hingga teknologi kesehatan yang terus berkembang. Antusiasme terhadap BWB Expo 2026 juga terlihat dari respons para peserta pameran dan pengunjung yang datang dari berbagai negara. Bagi banyak pelaku usaha, ajang ini menjadi platform strategis untuk memperluas pasar dan membangun kerja sama internasional.Christina Tong, Director Pure Elegance Singapore, menilai BWB Expo 2026 memberikan peluang besar bagi pengembangan bisnis perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan dan kesehatan tersebut."Acara ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi bisnis kami. Kami dapat terhubung dengan banyak prospek dari luar negeri dan menjajaki potensi kolaborasi dengan mitra internasional. Kami juga melihat permintaan yang kuat di sini untuk produk perawatan kulit dan suplemen, karena konsumen sangat sadar akan kecantikan,  kesehatan, dan perawatan diri," ujar Christina.Ia mengaku terkesan dengan tingginya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan melalui produk wellness yang berkualitas. "Sangat menggembirakan melihat betapa banyak orang di sini percaya pada pentingnya menjaga kulit dan kesehatan mereka melalui perawatan kulit dan suplemen. Secara keseluruhan, acara ini memberi kami eksposur yang baik, peluang jaringan, dan potensi pertumbuhan bisnis," katanya.Sementara itu, Monica dari PT Semarang Herbal Indoplant mengatakan minat pasar terhadap produk aroma esensial dan herbal yang dipamerkan cukup tinggi. "Pasar aroma esensial yang tengah dipamerkan di event ini cukup bagus. Kami melihat peluang untuk menjaring pasar baru dan memperluas jaringan bisnis melalui pameran ini," ujarnya. Monica menambahkan bahwa keikutsertaan perusahaan yang berada di bawah naungan PT Sido Muncul tersebut bertujuan memperluas kemitraan bisnis sekaligus memperkenalkan produk wellness berbasis bahan alami kepada pasar yang lebih luas.Hal yang sama juga dikatakan oleh Apt. Agus Yulyastrawan, S.Farm, Plant Manager dari DNALab yang mengatakan antusias ikut event ini untuk memeprluas pasar dan jejaring. "Tentu, menurut saya kegiatan seperti Bali Wellness and Beauty Expo 2026 sangat penting untuk mendorong pertumbuhan industri wellness di Indonesia. Acara ini menjadi wadah kolaborasi, edukasi, dan inovasi yang mempertemukan pelaku industri, sehingga dapat mempercepat perkembangan produk dan layanan wellness yang berkualitas serta berdaya saing global," ujar Agus.DNALab adalah pabrik manufaktur kosmetik dan skincare di Bali yang melayani jasa maklon (pembuatan produk dengan merek sendiri). Perusahaan ini dikenal sebagai pelopor dalam pengembangan produk perawatan berbahan dasar natural dan ramah mikrobioma (microbiome-friendly).Dari sisi pengunjung, Sohum Mehta, CEO dan Co-Founder GlowRank, menilai BWB Expo menjadi ruang yang sangat efektif untuk mempertemukan berbagai pelaku industri kesehatan dan wellness. "Event ini amat bagus untuk menjalin kerja sama bisnis para pelaku bisnis," katanya. Sohum mengaku datang secara individu untuk membangun jaringan dengan berbagai perusahaan kesehatan yang hadir dalam pameran tersebut. "GlowRank adalah platform yang akan merevolusi cara perusahaan-perusahaan di Bali beroperasi dengan AI. GlowRank adalah alat yang menjawab pertanyaan yang akan segera diajukan oleh setiap pemilik bisnis lokal: 'Apakah saya muncul ketika AI merekomendasikan seseorang seperti saya?'" ujarnya saat memperkenalkan platform bisnisnya.Antusiasme serupa juga disampaikan Tina dari PT Hayag Farms Bali yang berasal dari Filipina. Ia mengaku senang melihat tingginya minat pengunjung untuk mengenal produk dan layanan yang ditawarkan perusahaannya. "Kami sangat antusias bertemu dengan para pengunjung dan membangun relasi bisnis selama pameran ini. Selain memperkenalkan bisnis dan properti yang kami miliki di Filipina, kami juga ingin memperluas jaringan usaha di Bali. Acara ini memberikan kesempatan yang sangat baik untuk membuka peluang kolaborasi baru," ujar Tina.Hari pertama BWB Expo 2026 ditutup dengan The Art of Balinese Fashion Show yang menampilkan karya para desainer lokal yang memadukan unsur budaya, kreativitas, dan gaya hidup modern sebagai simbol harmoni antara tradisi dan inovasi.Melalui penyelenggaraan BWB Expo 2026, para pemangku kepentingan berharap momentum ini dapat menjadi katalis lahirnya kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, investor, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas. Tidak hanya sebagai ajang promosi, BWB Expo juga diharapkan mempercepat transformasi Indonesia menjadi salah satu pusat wellness dunia yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Sumber Artikel: Indo Bali NewsPenulis: Shira AdeEditor: Tim Indo Bali News

Strengthening Global Competitiveness, BWB Expo 2026 Establishes Strategic Collaboration with Indonesia’s Vice Minister of MSMEs
May 07, 2026 Denpasar, Bali

Strengthening Global Competitiveness, BWB Expo 2026 Establishes Strategic Collaboration with Indonesia’s Vice Minister of MSMEs

Denpasar, Bali – In an effort to strengthen the global competitiveness of Indonesia’s wellness and beauty industry, the organizers of Bali Wellness and Beauty (BWB) Expo 2026 held a courtesy call meeting with the Vice Minister of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) of the Republic of Indonesia on Thursday, 7 May 2026.The meeting discussed various strategic initiatives aimed at aligning government programs with the vision of BWB Expo 2026 in supporting the sustainable and globally oriented growth of Indonesia’s wellness industry. The collaboration primarily focuses on strengthening support for local businesses in the health, fitness, beauty, and wellness lifestyle sectors, all of which hold significant potential in the international market.Through this synergy, both parties are committed to creating broader opportunities for Indonesian brands and MSMEs to strengthen their capabilities, expand business networks, and introduce their products and services to the global market. BWB Expo 2026 is envisioned as a strategic platform for industry players to innovate, collaborate, and expand their international market reach.This collaboration is also aligned with the government’s vision to advance the #UMKMNaikKelas and #MSMEGoGlobal initiatives, while further strengthening Indonesia’s position in the rapidly growing global wellness industry. With the support and synergy of Indonesia’s Ministry of MSMEs, BWB Expo 2026 is expected to serve as a catalyst for enhancing the quality, competitiveness, and standards of Indonesia’s wellness industry to meet the demands of the international market.Moving forward, BWB Expo 2026 will not only serve as an international exhibition, but also as a cross-sector collaboration platform that brings together government institutions, industry leaders, investors, academics, and wellness communities to build a stronger, more innovative, and internationally competitive wellness ecosystem in Indonesia.Carrying the theme “Thrive in Bali: Where Wellness Inspires the World,” BWB Expo 2026 is expected to further strengthen the position of Bali and Indonesia as one of the world’s leading wellness destinations and a growing hub for wellness innovation at both regional and global levels.

Bali Wellness and Beauty Expo 2026 Holds Market Sounding in Semarang, Encouraging Collaboration within the Wellness and Beauty Industry
Feb 05, 2026 Semarang

Bali Wellness and Beauty Expo 2026 Holds Market Sounding in Semarang, Encouraging Collaboration within the Wellness and Beauty Industry

SEMARANG — As part of efforts to expand market reach and strengthen engagement among national wellness and beauty industry stakeholders, the Bali Wellness and Beauty Expo (BWB Expo) 2026 held a Market Sounding event at Novotel Hotel Semarang on Thursday, 5 February. The event is part of a national promotional series ahead of The Second Bali Wellness and Beauty Expo 2026, which will take place on 4–6 June 2026 at the Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali Special Economic Zone (SEZ). This was conveyed by BWB Expo Managing Director, Dr. Diah Permana, in Semarang on 5 February 2026.Dr. Diah Permana further explained that the Market Sounding aims to introduce the concept, business opportunities, and participation schemes of The Second Bali Wellness and Beauty Expo 2026 to industry players, associations, brand owners, distributors, practitioners, and MSMEs in the wellness and beauty sector across Semarang and its surrounding regions. “This initiative also serves as a platform for dialogue to capture regional market aspirations and needs, which hold strong potential for the development of health- and lifestyle-based industries,” said Dr. Diah Permana, a Doctor of Tourism graduate from Udayana University.According to Dr. Diah Permana, Semarang holds a strategic position as a center for trade, distribution, and industry in Central Java. “With Semarang’s role as a regional economic and logistics hub, this Market Sounding serves as a strategic step to encourage greater participation from regional wellness and beauty business players and connect them to broader markets through BWB Expo 2026,” she stated.For its 2026 edition, BWB Expo is targeting approximately 150 exhibitors and 5,000 professional visitors nearly double the figures recorded at its inaugural event in 2025, which attracted more than 3,000 professional visitors and featured 107 wellness and beauty brands from both domestic and international markets.Global Wellness Economy TrendsThe wellness industry has emerged as one of the world’s leading economic forces, valued at approximately USD 6.8 trillion, surpassing the pharmaceutical, sports, tourism, green economy, and information technology industries and accounting for around 60.3 percent of total global health expenditure. Regionally, Indonesia holds a strategic position as the largest contributor to the wellness economy in Southeast Asia, valued at approximately USD 55.8 billion, and ranks seventh in the Asia-Pacific region (Global Wellness Institute, 2025).The Global Wellness Institute also projects that the wellness economy will grow at an average annual rate of 7.6 percent, increasing from around USD 6.8 trillion in 2025 to nearly USD 9 trillion by 2029. This growth is primarily driven by sectors such as personal care and beauty, mental wellness, wellness real estate, and traditional and complementary medicine, in line with rising demand for holistic and preventive healthcare approaches.Responding to these trends, Bali Wellness and Beauty Expo Project Director Feri Agustian Soleh stated that the growth of the global wellness economy presents significant opportunities for national industry players to assume a more strategic role. “Indonesia’s strengths lie in its natural resources, local wisdom, and culturally rooted wellness products and services that align with global holistic health trends. Through Bali Wellness and Beauty Expo 2026, we encourage regional industry players to connect with national and international markets and expand sustainable collaboration opportunities,” he said.A National and International Collaboration PlatformBWB Expo 2026 is curated as a strategic platform that brings together a comprehensive ecosystem of health, wellness, and beauty sectors from both domestic and international markets. Beyond the exhibition, BWB Expo is designed as an integrated Business-to-Business (B2B) and Business-to-Consumer (B2C) platform, featuring business matching sessions, industry forums, brand presentations, panel discussions, and experiential programs that foster direct interaction between brands and consumers.The Market Sounding in Semarang completes a series of national promotional activities for BWB Expo 2026, following similar initiatives in Solo and Yogyakarta, and will continue in other cities including Jakarta and Bali. Through this series of activities, BWB Expo 2026 is expected to strengthen national wellness and beauty industry networks, expand market access for regional businesses, and support the growth of an inclusive and sustainable health-based industry in Indonesia.

Bali Wellness and Beauty Expo 2026 Strengthens Wellness and Beauty Industry Networks through Market Sounding in Yogyakarta
Feb 04, 2026 Yogyakarta

Bali Wellness and Beauty Expo 2026 Strengthens Wellness and Beauty Industry Networks through Market Sounding in Yogyakarta

YOGYAKARTA — In an effort to expand market reach and strengthen engagement among national wellness and beauty industry stakeholders, the Bali Wellness and Beauty Expo (BWB Expo) 2026 held a Market Sounding event at Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta on Wednesday, 4 February. The event forms part of a national promotional series ahead of The Second Bali Wellness and Beauty Expo 2026, scheduled to take place on 4–6 June 2026 at the Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali Special Economic Zone (SEZ). This was conveyed by BWB Expo Managing Director, Dr. Diah Permana, in Yogyakarta on 4 February 2026.Dr. Diah Permana further explained that the Market Sounding aims to introduce the concept, business opportunities, and participation schemes of The Second Bali Wellness and Beauty Expo 2026 to industry players, associations, brand owners, distributors, practitioners, and MSMEs in the wellness and beauty sector across Yogyakarta and its surrounding regions. “This initiative also serves as a platform for dialogue to capture regional market aspirations and needs, which hold strong potential for the development of health- and lifestyle-based industries,” said Dr. Diah Permana, a Doctor of Tourism graduate from Udayana University.According to Dr. Diah Permana, Yogyakarta was selected as one of the Market Sounding cities due to its strong ecosystem in education, culture, and the development of creative and knowledge-based industries. “Yogyakarta is home to rapidly growing human resources, communities, and wellness and beauty business players. This Market Sounding is a strategic step to build connectivity between regional industry players and a national and international exhibition platform,” she explained.For its 2026 edition, BWB Expo is targeting approximately 150 exhibitors and 5,000 professional visitors nearly double the figures recorded at its inaugural event in 2025, which attracted more than 3,000 professional visitors and featured 107 wellness and beauty brands from both domestic and international markets.Global Wellness Economy TrendsThe wellness industry has emerged as one of the world’s leading economic forces, valued at approximately USD 6.8 trillion, surpassing the pharmaceutical, sports, tourism, green economy, and information technology industries and accounting for around 60.3 percent of total global health expenditure. Regionally, Indonesia stands as the largest contributor to the wellness economy in Southeast Asia, valued at approximately USD 55.8 billion, ranking seventh in the Asia-Pacific region (Global Wellness Institute, 2025).The Global Wellness Institute also projects that the wellness economy will grow at an average annual rate of 7.6 percent, increasing from around USD 6.8 trillion in 2025 to nearly USD 9 trillion by 2029. This growth is primarily driven by sectors such as personal care and beauty, mental wellness, wellness real estate, and traditional and complementary medicine, in line with rising demand for holistic and preventive healthcare approaches.Responding to these trends, Bali Wellness and Beauty Expo Project Director Feri Agustian Soleh stated that the expansion of the global wellness economy presents significant opportunities for national industry players to take on a more strategic role. “Indonesia’s strengths lie in its natural resources, local wisdom, and culturally rooted wellness products and services that align with global holistic health trends. Through Bali Wellness and Beauty Expo 2026, we encourage regional industry players to connect with national and international markets and expand sustainable collaboration opportunities,” he said.A National and International Collaboration PlatformBWB Expo 2026 is curated as a strategic platform that brings together a comprehensive ecosystem of health, wellness, and beauty sectors from both domestic and international markets. Beyond the exhibition, BWB Expo is designed as an integrated Business-to-Business (B2B) and Business-to-Consumer (B2C) platform, featuring business matching sessions, industry forums, brand presentations, panel discussions, and experiential programs that foster direct interaction between brands and consumers.The Market Sounding in Yogyakarta is part of BWB Expo 2026’s broader national promotional roadmap, which has also been carried out in Solo and Semarang, before continuing to other cities including Jakarta and Bali. Through this series of initiatives, BWB Expo 2026 is expected to strengthen national wellness and beauty industry networks, expand market access for regional businesses, and support the growth of an inclusive and sustainable health-based industry in Indonesia.

Expanding National Wellness and Beauty Industry Participation, Bali Wellness and Beauty Expo 2026 Holds Market Sounding in Solo
Feb 04, 2026 Solo

Expanding National Wellness and Beauty Industry Participation, Bali Wellness and Beauty Expo 2026 Holds Market Sounding in Solo

SOLO — As part of efforts to expand market reach and strengthen participation from national wellness and beauty industry stakeholders, the Bali Wellness and Beauty Expo (BWB Expo) 2026 held a Market Sounding event at Alila Hotel Solo on Wednesday, 4 February. The Market Sounding forms part of a nationwide promotional series ahead of the main exhibition, scheduled to take place on 4–6 June 2026 at the Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali Special Economic Zone (SEZ). This was conveyed by BWB Expo Managing Director, Dr. Diah Permana, in Solo on 4 February 2026.Dr. Diah Permana further explained that the Market Sounding aims to introduce the concept, business opportunities, and participation schemes of The Second Bali Wellness and Beauty Expo 2026 to industry players, associations, brand owners, distributors, practitioners, and MSMEs in the wellness and beauty sector across Solo and its surrounding areas. “This initiative also serves as a platform for dialogue to capture regional market aspirations and needs, which hold strong potential for the development of health- and lifestyle-based industries,” said Dr. Diah Permana, a Doctor of Tourism graduate from Udayana University.According to Dr. Diah Permana, Solo was selected as one of the Market Sounding cities due to its rapidly growing ecosystem in the creative, health, beauty, and cultural industries. “The Market Sounding in Solo is a strategic step to build connectivity between regional industry players and a national and international exhibition platform, while also encouraging sustainable collaboration,” she noted.For its 2026 edition, BWB Expo is targeting approximately 150 exhibitors and 5,000 professional visitors nearly double the figures recorded at its inaugural event in 2025, which attracted more than 3,000 professional visitors and featured 107 wellness and beauty brands from both domestic and international markets.Global Wellness Economy TrendsThe wellness industry has emerged as one of the world’s leading economic forces, valued at approximately USD 6.8 trillion, surpassing the pharmaceutical, sports, tourism, green economy, and information technology industries and accounting for around 60.3% of total global health expenditure. Regionally, Indonesia stands as the largest contributor to the wellness economy in Southeast Asia, valued at approximately USD 55.8 billion, ranking seventh in the Asia-Pacific region (source: Global Wellness Institute, 2025).The Global Wellness Institute also projects that the wellness economy will grow at an average annual rate of 7.6%, increasing from around USD 6.8 trillion in 2025 to nearly USD 9 trillion by 2029. This growth is primarily driven by sectors such as personal care and beauty, mental wellness, wellness real estate, and traditional and complementary medicine, in line with rising demand for holistic and preventive healthcare approaches.Responding to these trends, Bali Wellness and Beauty Expo Project Director Feri Agustian Soleh stated that the expansion of the global wellness economy presents significant opportunities for national industry players to assume a more strategic role. “Indonesia’s strengths lie in its natural resources, local wisdom, and culturally rooted wellness products and services that align with global holistic health trends. Through Bali Wellness and Beauty Expo 2026, we encourage regional industry players to connect with national and international markets while expanding sustainable collaboration opportunities,” he said.A National and International Collaboration PlatformBWB Expo 2026 is curated as a strategic platform that brings together a comprehensive ecosystem of health, wellness, and beauty sectors from both domestic and international markets. Beyond the exhibition, BWB Expo is designed as an integrated Business-to-Business (B2B) and Business-to-Consumer (B2C) platform, featuring business matching sessions, industry forums, brand presentations, panel discussions, and experiential programs that foster direct interaction between brands and consumers.The Market Sounding initiative in Solo is part of BWB Expo 2026’s broader national promotional roadmap, which will continue in other cities including Yogyakarta, Semarang, Jakarta, and Bali. Through these efforts, BWB Expo 2026 is expected to strengthen national wellness and beauty industry networks, expand market access for regional businesses, and support the growth of an inclusive and sustainable health-based industry in Indonesia.

The Second BWB Expo 2026 to Be Held in Bali, Targeting 150 Exhibitors and 5,000 Visitors
Feb 02, 2026 Denpasar, Bali

The Second BWB Expo 2026 to Be Held in Bali, Targeting 150 Exhibitors and 5,000 Visitors

DENPASAR — Bali is set to once again host an international-scale wellness and beauty industry event through the Bali Wellness and Beauty Expo (BWB Expo) 2026, scheduled to take place on 4–6 June 2026 at the Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali, located within the Sanur Special Economic Zone (SEZ).The announcement was made by BWB Expo Managing Director Dr. Diah Permana during a press conference in Denpasar on Monday (2 February 2026). Entering its second year, the event is targeting the participation of 150 exhibitors and approximately 5,000 professional visitors over the three-day exhibition.“This year’s visitor target is almost double that of the previous edition,” Dr. Diah said. By comparison, BWB Expo 2025 attracted more than 3,000 professional visitors, featuring 80 exhibition booths and 107 wellness and beauty brands from both domestic and international markets.Domestic participants at the inaugural event came from regions including Bali, Jakarta, Central Java, East Java, and North Sulawesi. International exhibitors and buyers were present from South Korea, Japan, and China, reflecting growing global interest in Indonesia’s wellness and beauty industry.Carrying the theme “Thrive in Bali: Where Wellness Inspires the World,” BWB Expo 2026 is positioned as a strategic platform that brings together the health, wellness, and beauty industry ecosystem from Indonesia and abroad. The event aims to expand market access, encourage cross-stakeholder collaboration, and strengthen the competitiveness of Indonesia’s wellness and beauty sector in the Asia-Pacific region.In addition to the exhibition, BWB Expo 2026 is designed as a Business-to-Business (B2B) platform through programs such as business matching sessions, business meetings, industry discussion forums, brand presentations, panel discussions, and workshops featuring national and international speakers. A Business-to-Consumer (B2C) approach is also incorporated to facilitate direct engagement between brands and consumers through experiential activities and interactive programs.In terms of institutional support, BWB Expo 2026 has received endorsement from the Ministry of Tourism and is supported by several other government bodies, including the Ministry of Health, Ministry of Industry, Ministry of Trade, Ministry of Cooperatives and SMEs, and the Ministry of Foreign Affairs. International promotional efforts have also been carried out through major global forums such as the ASEAN Travel Forum, Therapy World Tokyo, and World Travel Market London.By prioritizing sustainability principles, BWB Expo 2026 is expected to further strengthen Bali’s position as a global hub for the wellness and beauty industry, while simultaneously supporting the growth of an inclusive and sustainable health-based industry in Indonesia.

Bali Wellness and Beauty Expo Strengthens Synergy with the Ministry of Tourism
Jan 15, 2026 Jakarta

Bali Wellness and Beauty Expo Strengthens Synergy with the Ministry of Tourism

Jakarta, 15 January 2026 – The Board of Directors of the Bali Wellness and Beauty Expo (BWB Expo) held an official audience with the Vice Minister of Tourism of the Republic of Indonesia, Ni Luh Puspa, on 15 January 2026. The meeting was also attended by senior officials from the Ministry of Tourism, including representatives from the Deputy for Marketing, Ni Made Ayu Marthini, and the Assistant for Tourism Products and Event Organization, Fransiskus Handoko. This audience marked a strategic step in strengthening synergy between event organizers and the government in supporting the development of Indonesia’s wellness and beauty industry.During the meeting, the Board of Directors of the Bali Wellness and Beauty Expo presented a comprehensive overview of the Bali Wellness and Beauty Expo 2026, including its vision, event concept, and the strategic role of the expo as a platform that brings together industry players, professionals, investors, and institutions within the wellness and beauty ecosystem. Bali Wellness and Beauty Expo 2026 is scheduled to take place on 4–6 June 2026 at the Bali Beach Convention Center, The Sanur Bali, under the theme “Thrive in Bali: Where Wellness Inspires the World.” The event will feature a range of flagship programs, including the main exhibition, a marketplace and knowledge hub, business matching sessions, as well as interactive activities with attractive prizes for visitors.The audience also discussed the significant potential of the wellness and beauty industry as a key driver of sustainable tourism growth and the national economy, particularly in Bali, which is internationally recognized as a world-class wellness destination. On this occasion, BWB Expo reaffirmed its commitment to fostering cross-sector collaboration, encouraging industry innovation, and promoting the implementation of sustainable business practices in line with national tourism policy directions.The Vice Minister of Tourism of the Republic of Indonesia, Ni Luh Puspa, welcomed the initiative of the Bali Wellness and Beauty Expo and expressed appreciation for the efforts undertaken to strengthen Indonesia’s position as an international wellness and beauty destination. During the meeting, she also conveyed the Ministry of Tourism’s commitment to supporting the participation of potential buyers at both national and international levels, as well as encouraging synergy between the organization of BWB Expo and various government programs.The organization of Bali Wellness and Beauty Expo 2026 is designed to align with Law Number 18 of 2025 on Tourism and to support the development of the Sanur Special Economic Zone (SEZ) as an international-standard hub for healthcare, wellness, and tourism services. In this context, BWB Expo is expected to serve as a strategic platform that connects industry stakeholders, investors, and government institutions within a globally competitive collaborative ecosystem.In line with this commitment, the Ministry of Tourism also expressed its support for promoting Bali Wellness and Beauty Expo 2026 through various digital platforms to enhance brand awareness and event visibility at both national and international levels.The Board of Directors of the Bali Wellness and Beauty Expo extends its highest appreciation for the support and attention provided by the Ministry of Tourism of the Republic of Indonesia in facilitating the successful organization of Bali Wellness and Beauty Expo 2026.This audience reflects the Bali Wellness and Beauty Expo’s commitment to continuously building constructive communication and collaboration with all stakeholders, in order to ensure that the event delivers tangible contributions to the sustainable development of the tourism, wellness, and beauty industries.Through strategic collaboration between the government and industry players, Bali Wellness and Beauty Expo 2026 is expected to further strengthen Bali’s role as an internationally relevant center for wellness and beauty, while also supporting the growth of a professional, inclusive, and sustainable industry, including through support for the participation of potential buyers at both national and international levels.

Looking for media partnership or press inquiries?
Reach out via Email.